Kegiatan Terlaksana 14 Jul 2026 Taman Budaya (Karpan), Ambon, Maluku Sosial

IAMM Gelar Bedah Buku “Enrique Maluku” dan Pergelaran Seni Tari-Budaya, Perkuat Literasi Sejarah Generasi Muda

AMBON — Inspirasi Anak Muda Maluku (IAMM) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Enrique Maluku: Menguatkan Semangat Kebangsaan melalui Bedah Buku dan Pergelaran Seni Budaya Maluku” di Taman Budaya Maluku, Karang Panjang (Karpan), Kota Ambon, Selasa, 14 Juli 2026.

Kegiatan yang berlangsung pada pukul 09.00 hingga 13.30 WIT tersebut diikuti sekitar 300 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, akademisi, budayawan, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, pegiat literasi, dan masyarakat umum.

Mengusung semboyan “Dari Enrique, Kita Belajar. Dari Maluku, Kita Menginspirasi,” kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan dialog untuk memperkenalkan kembali jejak sejarah maritim Maluku sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan kebudayaan daerah.

Ketua IAMM, Vanesia Lesnussa, S.H., yang sekaligus bertindak sebagai moderator, mengatakan bahwa Maluku memiliki banyak tokoh dan peristiwa sejarah yang belum dikenal secara luas. Karena itu, generasi muda perlu terus diberikan ruang untuk mempelajari sejarah daerahnya sendiri.

“Cerita dan karya tentang Enrique Maluku adalah satu dari banyak cerita tentang kehebatan Maluku yang akan terus kami munculkan. Generasi Maluku harus terus disuguhi literasi sejarahnya sendiri,” kata Vanesia.

Menggali Jejak Enrique dalam Sejarah Maritim

Agenda utama kegiatan adalah bedah buku Enrique Maluku karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas. Buku tersebut mengangkat kembali posisi Enrique dalam perjalanan ekspedisi Ferdinand Magellan serta sejarah pelayaran dunia pada abad ke-16.

Dalam sejumlah catatan sejarah, Enrique disebut berperan sebagai penerjemah bahasa Melayu dan penghubung komunikasi antara rombongan pelaut Eropa dengan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Perannya dinilai penting karena bahasa Melayu pada masa tersebut menjadi salah satu bahasa utama dalam aktivitas perdagangan di kawasan Nusantara.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. M. Jen Latuconsina, S.IP., M.A., akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura; Mezak Wakim, S.Pd., M.Si., Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku; serta Dr. A. Manaf Tubaka, M.Si., Ketua ICMI Kota Ambon sekaligus dosen UIN A.M. Sangadji Ambon.

Dr. M. Jen Latuconsina menjelaskan bahwa pembahasan mengenai sejarah pelayaran dunia selama ini lebih banyak menempatkan bangsa-bangsa besar sebagai pelaku utama. Padahal, Maluku sebagai pusat perdagangan rempah-rempah telah menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan dan pelayaran global jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Menurutnya, figur Enrique perlu diperkenalkan secara lebih luas sebagai bagian dari sejarah Maluku. Nilai keberanian, kecakapan berkomunikasi, kepemimpinan, dan daya juang dalam perjalanan Enrique dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan berprestasi.

Mengkaji Sejarah secara Kritis dan Berbasis Data

Mezak Wakim mengulas isi buku dari sudut pandang sejarah dan kebudayaan. Ia menekankan bahwa pembahasan mengenai asal-usul dan perjalanan Enrique harus dilakukan secara objektif dengan merujuk pada arsip dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu dokumen yang dibahas dalam forum adalah De Moluccis Insulis karya Maximilianus Transylvanus yang diterbitkan pada 1523. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa Magellan memiliki seorang penerjemah yang berasal dari Kepulauan Maluku dan sebelumnya dibawa dari Malaka.

Dokumen tersebut digunakan oleh penulis dan narasumber sebagai salah satu dasar untuk memperkuat hubungan Enrique dengan Kepulauan Maluku. Meski terdapat pandangan lain mengenai asal-usul Enrique, perbedaan tersebut dinilai perlu menjadi ruang bagi penelitian sejarah yang lebih mendalam.

Mezak juga menempatkan Enrique bukan hanya sebagai penerjemah, tetapi sebagai penghubung komunikasi lintas budaya dalam perjalanan maritim dunia. Kemampuan bahasa dan pengetahuannya mengenai kawasan Nusantara membuat Enrique memiliki posisi strategis dalam ekspedisi tersebut.

Pembahasan mengenai Enrique juga tidak dapat dipisahkan dari kejayaan perdagangan rempah-rempah. Cengkih dan pala telah menempatkan Maluku sebagai salah satu pusat perjumpaan masyarakat, kebudayaan, dan kepentingan perdagangan dari berbagai wilayah dunia.

Sejarah sebagai Penguat Persatuan

Dr. A. Manaf Tubaka menyoroti nilai filosofis dan kebangsaan yang dapat dipetik dari perjalanan Enrique. Menurutnya, sejarah Maluku memperlihatkan bahwa keberagaman dan perjumpaan berbagai kebudayaan tidak harus menjadi sumber perpecahan, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk membangun persatuan.

Nilai keberanian, keterbukaan, kemampuan beradaptasi, dan semangat melintasi batas yang tergambar dalam perjalanan Enrique dinilai relevan bagi pembentukan karakter generasi muda.

Sejarah tidak cukup hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi perlu diterjemahkan menjadi semangat untuk berkarya dan memberikan kontribusi bagi masyarakat, Maluku, serta Indonesia.

Forum tersebut juga membahas pentingnya pembangunan yang sesuai dengan karakter Maluku sebagai daerah kepulauan. Penguatan konektivitas antarpulau, ekonomi kelautan dan perikanan, perlindungan lingkungan pesisir, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat kemaritiman Maluku.

Pergelaran Seni Hidupkan Identitas Maluku

Selain diskusi dan bedah buku, kegiatan turut dimeriahkan dengan pergelaran seni tari dan budaya oleh Sanggar Seni Tamariska.

Sanggar tersebut menampilkan tarian tradisional, permainan tifa, dan sejumlah lagu daerah Maluku, antara lain Toma-Toma, Pohon Sagu, dan Lompat Gaba-Gaba.

Penampilan tersebut menegaskan bahwa sejarah tidak hanya dapat diperkenalkan melalui buku dan forum akademik, tetapi juga melalui musik, tarian, bahasa, dan berbagai ekspresi kebudayaan.

Komedian Maluku Jhon Laratmasse turut hadir sebagai bintang tamu. Penampilannya menghadirkan hiburan bernuansa lokal dan membangun suasana yang lebih dekat dengan para peserta, khususnya generasi muda.

Bagi IAMM, seni dan budaya merupakan sarana penting untuk merawat ingatan kolektif masyarakat. Nilai persaudaraan, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, dan semangat hidup masyarakat kepulauan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui karya seni.

Dorong Enrique Menjadi Materi Pembelajaran

Pada akhir kegiatan, mengemuka usulan agar kisah Enrique Maluku dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari materi muatan lokal di sekolah-sekolah di Maluku.

Gagasan tersebut diharapkan dapat mendorong kajian lanjutan, penulisan sejarah berbasis sumber primer, serta pengembangan media pembelajaran yang lebih dekat dengan generasi digital.

Sejarah Enrique juga dapat dikembangkan melalui komik digital, film animasi, siniar, video kreatif, hingga permainan edukatif. Dengan pendekatan tersebut, sejarah maritim dan kejayaan rempah-rempah Maluku dapat disampaikan secara menarik tanpa kehilangan sikap kritis dan ketepatan data.

IAMM berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi awal dari gerakan literasi sejarah dan pelestarian budaya yang berkelanjutan.

Melalui semangat “Dari Enrique, Kita Belajar. Dari Maluku, Kita Menginspirasi,” IAMM mengajak generasi muda untuk mengenal sejarahnya, merawat kebudayaannya, memperkuat persaudaraan, dan mengambil bagian dalam membangun Maluku serta Indonesia.

Pagelaran Seni Budaya